Minggu, 29 Maret 2015

Penalaran Deduktif

   Penalaran Deduktif bergerak dari sesuatu yang bersifat umum kepada yang khusus. Jika kita mengetahui S, sedangkan P adalah bagian dari S, maka dapat ditarik kesimpulan tentang P. Penarikan kesimpulan dengan cara deduktif tidak menghasilkan pengetahuan baru, karena kesimpulannya telah tersirat pada premisnya. Penalaran deduktif dapat merupakan silogisme dan entimem.
      1.     Silogisme
     Silogisme adalah cara berpikir formal, yang jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan polanya saja, misalnya ia dihukum karena melanggar peraturan X, sebenarnya dapat dibentuk secara formal atau silogisme, yaitu
a.       Semua yang melanggar peraturan X akan dihukum.
b.      Ia melanggar peraturan X
c.       Ia dihukum

    1)      Penjelasan
  • Silogisme merupakan bentuk penalaran deduktif yang bersifat formal.
  • Proses penalaran dimulai dari premis mayor, melalui premis minor, sampai pada kesimpulan.
  • Strukturnya tetap; premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  • Premis mayor berisi pernyataan umum.
  • Premis minor berisi pernyataan yang lebih khusus yang merupakan bagian premis mayor (term mayor).
  • Kesimpulan dalam silogisme selalu lebih khusus daripada premisnya.


    2)      Persyaratan Silogisme
  • Di dalam silogisme hanya mungkin terdapat tiga term.

    Contoh :   Semua manusia berakal budi.
                    Semua mahasiswa adalah manusia.
                    Semua mahasiswa berakal budi
  • Term tengah tidak boleh terdapat kesimpulan.
  • Dari dua premis negatif, tidak dapat ditarik kesimpulan.
  • Kalau kedua premisnya positif, kesimpulan juga positif.
  • Term-term yang mendukung proposisi harus jelas, tidak mengandung pengertian ganda/menimbulkan keraguan.
  • Dari premis mayor partikular dan premis minor negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
  • Premis mayor dalam silogisme mungkin berasal dari teori ilmiah. Penarikan kesimpulan dari teori ini mudah diuji. Tidak jarang premis mayor berasal dari pendapat umum yang belum dibuktikan kebenarannya.


      2.    Entimem
         Dalam kehidupan sehari-hari, silogisme yang kita temukan berbentuk entimem, yaitu silogisme yang salah satu premisnya dihilangkan/tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
       Contoh :
       Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
       Kalimat di atas dapat dipenggal menjadi dua.
       a.       Menipu adalah dosa.
       b.      Karena (menipu) merugikan orang lain.
Kalimat a merupakan kesimpulan, kalimat b adalah premis minor (bersifat khusus) maka silogisme dapat disusun:
      Premis mayor  :     ?
      Premis minor   :     Menipu merugikan orang lain.
      Kesimpulan      :     Menipu adalah dosa.

    Dalam kalimat itu, yang dihilangkan adalah premis mayor. Perlu diingat bahwa premis mayor bersifat umum, jadi tidak mungkin subyeknya menipu. Kita dapat berpikir kembali dan menentukan premis mayornya, yaitu perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.
     Entimem juga dapat dibuat dengan menghilangkan premis minornya. Misalnya, perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa, jadi menipu adalah dosa.
      Untuk mengubah entimen menjadi silogisme, mula-mula kita cari kesimpulannya. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah jadi, maka, karena itu, dengan demikian dan sebagainya. Kalau sudah, cari/tentukan premis yang dihilangkan. Sebaliknya, untuk mengubah silogisme menjadi entimem, cukup dengan menghilangkan salah satu premisnya.



Sumber :
Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.

Senin, 23 Maret 2015

Penalaran Induktif

    Proses bernalar, pada dasarnya, ada dua macam yaitu induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan umum. Kesimpulan ini dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas data yang bersifat khusus. Proses berpikir induktif dibedakan atas generalisasi, analogi, dan sebab-akibat.

1)      Generalisasi
     Generalisasi ialah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa. Misalnya orang Indonesia peramah, apakah generalisasi itu sah? Untuk membuat generalisasi harus memenuhi ketentuan berikut :
a.      Cukup Memadai
Artinya gejala-gejala khusus/sampel yang diamati sebagai dasar penarikan kesimpulan mencukup jumlahnya. Apabila jumlah tidak memadai, maka generalisasi itu akan menjadi terlalu luas. Gejala yang diamati perlu dilihat jenisnya; apakah homogen atau heterogen. Sampel untuk gejala yang bersifat homogen tidak perlu terlalu banyak, misalnya untuk menguji produksi minyak goreng dalam suatu hari, cukup diteliti beberapa gram saja. Sebaliknya, semakin heterogen suatu populasi semakin banyak sampel yang perlu diteliti.
b.      Cukup Mewakili
Artinya sampe meliputi seluruh atau sebagian yang dikenai generalisasi atau sampelnya mewakili populasi, misalnya di suatu fakultas yang terdiri atas tiga program studi, terdapat 16 kelas yang terdiri atas tingkat 1, 2, 3, 4. Sampel yang mewakili haruslah diambil dari keseluruhan kelas yang ada.
c.       Kekecualian
Jika kesimpulan umum terlalu banyak kekecualian, maka tidak dapat diambil generalisasi. Dalam hal ini, hindari kata-kata setiap, semua; gunakan kata cenderung, pada umumnya, rata-rata, pada mayoritas yang diteliti, dan sebagainya. Jika menggunakan bahasa kuantitatif langsung saja menyatakan prosentase data yang diteliti.
Berikut syara-syarat generalisasi ilmiah yang lebih mementingkan keabsahan metode yang digunakan, yaitu
  • data dikumpulkan melalui observasi yang cermat, pencatatan dilakukan dengan tepat, teliti, menyeluruh dan terbuka terhadap pengujian lain,
  • menggunakan instrumen yang tepat untuk mengukur dan mendapatkan data,
  • melaksanakan pengujian, perbandingan, dan klasifikasi data,
  • pernyataan generalisasi jelas, sederhana, menyeluruh, padat, dan sistematis,
  • hasil observasi dirumuskan dengan mempertimbangkan variasi waktu, tempat, dan keadaan lainnya, dan
  • dipublikasikan untuk dapat diuji, dikritik, dan dites.


2)      Analogi
    Analogi induktif ialah proses berpikir untuk menarik kesimpulan/inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat/ciri-ciri esensial penting yang bersamaan. Yang diperhatikan dalam analogi ialah persamaan yang dipakai dasar kesimpulan benar-benar memiliki kesamaan dan ciri esensial yang penting yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.
Contoh :
Kesimpulan beberapa ilmuwan menyatakan bahwa anak kera dapat diberi makan seperti anak manusia berdasarkan kesamaan yang terdapat pada sistem pencernaan anak dan anak manusia. Kesimpulan ini sah, karena dasar kesimpulannya (sistem pencernaan) merupakan ciri esensial yang berhubungan dengan kesimpulan (cara memberi makan).

  Selain analogi induktif, dalam tulis-menulis dikenal juga analogi deklaratif, yaitu teknik menjelaskan dalam tulisan dengan mendahulukan hal yang telah diketahui sebelum memperkenalkan hal yang baru, yang mempunyai kesamaan dengan hal di atas.
Contoh :
Ilmu Pengetahuan dibangun oleh fakta-fakta sebagaimana rumah itu dibangun oleh batu-batu, tetapi tidaj senua kumpulan pengetahuan itu ilmu, sebagaimana tidak semua kumpulan baru itu rumah.

3)      Sebab-akibat
     Prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus ada penyebabnya. Terdapat tiga pola hubungan sebab akibat :
a.   Penalaran dari sebab ke akibat; dimulai dengan pengamatan terhadap suatu sebab yang diketahui, untuk menarik kesimpulan mengenai akibat yang mungkin ditimbulkan.
b.     Penalaran dari akibat ke sebab; dimulai dari suatu akibat yang diketahui, kemudia dipikirkan apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Penalaran ini bersifat expost facto (hal yang sudah terjadi), misalnya menentukan penyebaba kematian, kecelakaan, proses peradilan, dan cerita detektif.
c.     Penalaran dari akibat ke akibat; berpangkal dari suatu akibat dan langsung dipikirkan akibat lain tanpa memikirkan sebab umum yang menimbulkan kedua akubat itu.
      Untuk mendapatkan kesimpulan sebab-akibat yang benar, perlu diperhatikan hal-hal berikut :
  • Dalam penalaran sebab-akibat, harus diyakini bahwa garis penalaran, langsung tidak diputus oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya, seorang anak akan tertular cacar bila dicampurkan dengan anaka yang kena cacar, kecuali anak itu sudah divaksin cacar.
  • Sering dilupakan penyebab lain yang berperan menimbulkan sebab. Misalnya, prestasi mahasiswa turun karena jam pelajaran diberikan pada siang hari. Apakah betul demikian? Tidakkah ada faktor lain?
  • Adakah penyebab umum yang menimbulkan akibat-akibat. Apakah penyebab itu adalah satu-satunya yang menimbulkan kedua akibat tersebut?

      Penalaran sebab-akibat kelihatannya sederhana, tetapi ada juga penalaran sebab-akibat yang cukup rumit. Anda perlu mempelajari proses berpikir/bernalar dengan benar sehingga anda dapat bernalar dengan logis dan tidak dipengaruhi oleh sikap pribadi. Kepercayaan/takhyul, pandangan politik, atau prasangka.


Sumber :
- Hs, Widjono, 2007. BAHASA INDONESIA Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo.
- Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.

Senin, 16 Maret 2015

Penalaran

Pengertian  Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan/pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Penalaran adalah suatu proses berpikir yang logis dengan berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan. Fakta  adalah kenyataan yang dapat diukur dan dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan, yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui, meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan. Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi.
Klasifikasi


Klasifikasi adalah pengelompokan benda/fakta yang sama dan memisahkan dari yang berbeda menurut spesiesnya. Pengelompokan berfungsi agar kita mudah berhubungan dengan benda/fakta itu. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mencari sebuah buku di perpustakaan ditumpuk begitu saja tanpa dibuat klasifikasinya.
1). Guna Klasifikasi
Klasifikasi berguna untuk memahami fakta yang diperlukan sebagai dasar penalaran. Dalam, menulis, klasifikasi digunakan untuk mengembangkan topik karangan, membuat kerangka karangan, bahkan menyiapkan bahan-bahan untuk mengembangkan karangan.
2). Proses Klasifikasi
Membuat klasifikasi mengenai sejumlah benda/fakta – fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Dengan klasifikasi, fakta di tempatkan di dalam suatu sistem kelas sehingga dapat dikenali hubungan nya secara horizontal dan vertikal, ke samping dan ke atas
3). Persyaratan Klasifikasi
  • Prinsipnya jelas: Prinsip merupakan dasar/ patokan untuk membuat klasifikasi, beupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua fakta/benda/ atau gejala yang diklasifikasikan.
  • Logis dan Konsisten : Prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya
  • Lengkap dan Menyeluruh : Dasar pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok tanpa kecuali.

Proposisi

    Dalam proses penalaran, kita menghubungkan fakta-fakta. Hubungan itu diungkapkan dalam bentuk kalimat-kalimat pernyataan/kalimat berita. Kalimat yang berisi pernyataan tentang hubungan fakta-fakta itu disebut proposisi. Pernyataan dapat benar dan salah, jadi proposisi dapat dibatasi sebagai kalimat yang mengandung pernyataan tentang hubungan fakta-fakta yang dapat dinilai benar dan salah. Dalam berpikir proposisi, yaitu merupakan unit terkecil dari pemikiran yang mengandung maksud sempurna.
    Perhatikan sifat dapat dinilai benar atau salah, itu berarti bahwa proposisi selalu merupakan kalimat pernyataan/berita; sebab kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan tidak dapat dinilai benar atau salah.

Contoh :

1. Bahasa adalah sarana penalaran.

2. Sifat kuantitatif matematika meningkatkan daya prediksi ilmu.
3. Bagaimana peranan bahasa dalam proses penalaran?
4. Semoga saja penelitian ini berhasil

    Kalimat 1 dan 2 merupakan proposisi, kalimat 3 dan 4 bukan proposisi.
Dalam penalaran, proposisi disebut juga premis. Jika dibandingkan dengan sebuah bangunan, premis itu adalah batu, pasir, dan semen sedangkan penalaran adalah arsitekturnya. Dengan menggunakan batu, pasir, semen serta arsitektur yang baikakan menghasilkan bangunan yang baik pula. Demikian juga dalam penalaran; dengan menggunakan premis dan penalaran yang baik akan menghasilkan kesimpulan yang benar.

Sumber :
Rahayu, Minto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.

Jumat, 21 November 2014

Alinea


   Alinea atau paragraf adalah penuangan ide atau gagasan penulis melalui kalimat atau kumpulan kalimat yang satu dengan yang lain berkaitan dan hanya memiliki satu topik atau tema. 

SYARAT PARAGRAF: 
1. KESATUAN = Setiap paragraf sebaiknya mengandung satu gagasan pokok 
2. KOHERENSI = Setiap paragraf harus merupakan suatu kumpulan kalimat yang saling berhubungan secara padu, tidak berdiri sendiri atau terlepas satu dengan yang lainnya 
3. KELENGKAPAN = Berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup menunjang kejelasan kalimat topik. 

UNSUR-UNSUR PARAGRAF: 
1. Topik/ tema/ gagasan utama/ gagasan inti/ pokok pikiran 
2. Kalimat utama 
3. Kalimat penjelas 
4. Judul (kepala karangan). 
Syarat suatu judul: 
a. Provokatif (menarik) 
b. Berbentuk frase 
c. Relevan (sesuai dengan isi) 
d. Logis 
e. Spesifik 

   Berdasarkan penempatan inti gagasan atau ide pokok, alinea terbagi dalam beberapa jenis yaitu sebagai berikut: 
1. Deduktif: kalimat utama atau ide pokok diletakkan pada awal alinea 
2. Induktif: kalimat utama atau ide pokok diletakkan pada akhir alinea 
3. Variatif: kalimat utama diletakkan pada awal dan diulang pada akhir alinea 
4. Deskriptif atau naratif: kalimat utama termuat dalam seluruh alinea. 

JENIS-JENIS KARANGAN: 
1. Eksposisi: berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi. 
Contoh: Membaca intensif merupakan kegiatan membaca secara teliti atau membaca secara seksama, bacaan berupa teks. Tujuan membaca dengan cara ini untuk mendapatkan pemahaman isi bacaan secara tepat dan rinci. Misalnya untuk mengetahui hal-hal yang diperlukan. 

2. Argumentasi: bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti. 
Contoh: Air yang tergenang seperti di kaleng-kaleng dan selokan harus dibersihkan. Air yang tergenang itu tidak boleh dibiarkan karena akan menjadi sarang nyamuk. Nyamuk akan bertelur dan berkembang biak di genangan air tersebut. 

3. Deskripsi: berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut. 
Contoh: Malam itu indah sekali. Bintang-bintang di langit berkerlap-kerlip memancarkan cahaya. Udara dingin menusuk kulit. Sesekali terdengar suara jangkrik mengusik sepinya malam. 

4. Persuasi: karangan ini bertujuan mempengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu. 
Contoh: Penggunaan pestisida dan pupuk kimia untuk tanaman dalam jangka waktu lama tidak lagi menyuburkan tanaman dan memberantas hama. Pestisida justru dapat mencemari lingkungan dan menjadikan tanah lebih keras, sehingga perlu pengolahan dan biaya yang tinggi. Oleh karena itu, hindarilah penggunaan pestisida secara berlebihan. 

5. Narasi: karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi. 
Contoh: Andi terkejut melihat neneknya tiba-tiba datang. Ia langsung saja menjerit sekencangnya. Tak disangka neneknya marah dan memukul kepalanya dengan tongkat kecil yang selalu dibawanya.


Sumber : http://peperonity.com/go/sites/mview/bahasa-indonesia/17750098

EYD

    Ejaan adalah kaidah tulis menulis baku yang didasarkan pada penggambaran bunyi. Ejaan tidak hanya mengatur cara memakai huruf, tetapi juga cara menulis kata dan cara menggunakan tanda baca.

Pemakaian  Huruf

A. Huruf Abjad
   Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa indoensia terdiri atas 26 huruf, yaitu dari a sampai z.

B. Huruf Vokal
    Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas a, e, i, o, dan u.

C. Huruf Konsonan
    Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, u, v, w, x, y, z.

D. Huruf Diftong
    Diftong dalam sistem bahasa Indonesia dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

E. Gabungan Huruf Konsonan
    Gabungan huruf konsonan dalam sistem bahasa Indonesia terdiri atas kh, ng, ny, dan sy, masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan

F. Huruf Kapital
1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Contoh : Mereka akan melakukan penelitian di laboratorium

2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung
Contoh : Ayah bertanya, "Apakah kita sudah siap berangkat?"

3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan yang         berhubungan dengan agama, kita suci, dan Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh : Yang Maha Pengasih

4) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh : Imam Syafii
   b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,         keturunan, dan keagamaan yang tidak diiikuti nama orang.
Contoh : Ia menjadi imam di dalam keluarga itu.

5) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu.
Contoh : Jenderal Sudirman
    b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Contoh : Sidang itu dipimpin Presiden
    c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak merujjuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.
Contoh : Para gubernur se-Indonesia berkumpul di Bali.

6) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh : Dewi Sartika
  b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh : joule per Kelvin
  c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang digunakan sebagai nama jenis atau satuan.
Contoh : 10 ampere

7) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh : bangsa Asia
   b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh : kejawa-jawaan

8) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Contoh : tahun Hijriah
    b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama peristiwa sejarah.
Contoh : Perang Padri
  c. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan sebagai nama.
Contoh : Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia

9) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi.
Contoh : Asia Timur
   b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.
   c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri atau nama diri geografi jika kata yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Contoh : pempek Palembang
   d. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama diri geografi yang digunakan sebagai penjelas nama jenis.
Contoh : kacang Bogor
    e. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh nama diri geografi.
Contoh : Kapal itu berlayar hingga ke teluk.

10) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas, seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Contoh : Majelis Permusyawaran Rakyat
    b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.
Contoh : Negara Indonesia berbentuk republik.

11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi, dan judul karangan.
Contoh : Perserikatan Bangsa-Bangsa.

12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak teletak pada posisi awal.
Contoh : Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan yang disertai dengan nama diri.
Contoh : Prof,  profesor.

14) a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.
Contoh : Permohonan Saudara sedang kami pertimbangkan.
   b. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
Contoh : Saya mempunyai saudara yang tinggal di Padang.

15) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam penyapaan.
Contoh : Dimana Anda tinggal?

16) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada kata, seperti keterangan, catatan, dan misalnya yang didahului oleh pernyataan lengkap dan diikuti oleh paparan yang berkaitan dengan pernyataan lengkap itu.


Sumber : Waridah, Ernawati. 2013. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Bandung: Ruang Kata.

Diksi

     Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya. Selain pilihan kata yang tepat, efektifitas komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.

      Syarat-syarat ketepatan pilihan kata :
  1. Membedakan makna denotasi dan konotasi dengan cermat, denotasi yaitu kata yang bermakna lugas dan tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi dapat menimbulkan makna yang bermacam-macam, lazim digunakan dalam pergaulan, untuk tujuan estetika dan kesopanan.
  2. Membedakan secara ceramt makna kata yang hampir bersinonim, kata yang hampir bersinonim, misalnya : adalah, ialah, yaitu, merupakan, dalam pemakaiannya berbeda-beda.
  3. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya: inferensi (kesimpulan) dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh, bunting) dan syarat (ketentuan).
  4. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika pemahaman belum dapat dipastikan, pemakai kata harus menemukan makna kata yang teapt dalam kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektif canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir; canggih berarti banyak cakap, suka mengganggu, banyak mengetahui, bergaya, intelektual.
  5. Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir  seharusnya koordinasi.
  6. Menggunakan kata-kata idiomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar, misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.
  7. Menggunakan kata umum dan kata khusus secara cermat. Untuk mendapatkan pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus, misalnya: mobil (kata umum) corolla (kata khusus, sedan buatan Toyota).
  8. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya: isu (berasal dari bahasa Inggis tissue  berarti publikasi, kesudahan, perkara) isu (dalam bahasa Indonesia berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabar anginm desas-desus).
  9. Menggunakan dengan cermat kata bersinonim (misalnya: pria dan laki-laki, saya dan aku, serta buku dan kitab); berhomofoni (misalnya: bang dan bank, ke tahanan dan ketahanan); dan berhomografi (misalnya: apel buah, apel upacara).
  10. Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat, kata abstrak (konseptual, misalnya: pendidikan, wirausaha, dan pengobatan modern) dan kata konkret atau kata khusus (misalnya: mangga, sarapan, dan berenang).

Perubahan  Makna

      Pengembangan diksi terjadi pada kata, Namun, hal ini berpengaruh pada penyusunan kalimat, paragraf, dan wacana. Pengembangan tersebtu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi. Komunikasi kreatid berdampak pada perkembangan diksi, berupa penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu, bahasa berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat menimbulkan perubahan yang mencakup: perluasan, penyempitan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna.


Denotasi  dan  Konotasi

       Makna denotasi dan konotasi dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya nilai rasa. Kata denotaasi lebih menekankan tidak adanya nilai rasa, sedangkan konotasi bernilai rasa kias.

Makna denotasi lazim disebut :
  1. Makna konseptual, yaitu makna yang sesuai dengan hasil observasi (pengamatan) menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman yang berhubungan dengan informasi (data) faktual dan objektif.
  2. Makna sebenarnya, umpamanya, kata kursi  yaitu tempat duduk yang berkaki empat (makna sebenarnya).
  3. Makna lugas yaitu makna apa adanya, lugu, polos, makna sebenarnya, bukan makna kias.
Konotasi berartu makna kias, bukan makna sebenarnya. Sebuah kata dapat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma masyarakat tersebut. Makna konotasi dapat juga berubah dari waktu ke waktu.

     Sebuah kata dapat merosot nilai rasanya karena penggunaanya tidak sesuai dengan makna denotasinya. Umpamanya, kata kebijaksanaan yang bermakna denotasi kelakuan atau tindakan arif  dalam menghadapi suatu masalah, menjadi negatif konotasinya atas kasus-kasus tertentu, misalnya:
1) Pengemudi kendaraan bermotor ditilang karena melanggar peraturan lalu linta minta kebijaksanaanya kepada petugas agar tidak diperkaran (damai ditempat).
2)   Orang tua murid yang anaknya tidak naik kelas mohon kebijaksanaan kepada kepala sekolah agar bersedia menolong anaknya (menaikkan kelas).

    Dapat ditegaskan bahwa makna kata konotatif cenderung bersifat subjektif. Makna kata ini lebih banyak digunakan dalam situasi tidak formal, misalnya: dalam pembicaraan yang bersifat ramah tamah, diskusi tidak resmi, kekeluargaan, dan pergaulan.
Contoh :
  • Laporan anda harus diserahkan selambat-lambatnya 1 Juni 2004 (denotasi)
  • Laporan anda belum memenuhi sasaran (konotasi).

Sinonim

     Sinonim ialah persamaan makna kata. Artinya, dua kata atau lebih yang berbeda bentuk, ejaan, dan pengucapannya, tetapi bermakna sama. Misalnya, wanita  bersinonim dengan perempuan, makna sama tetapi berbeda tulisan maupun pengucapannya. Dalam kalimat kedua kata tersebut dapat dipertukarkan. Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh perempuan. Kata perempuan dapat diganti dengan wanita. Tradisi di daerah itu memasak dikerjakan oleh wanita.


Idiomatik
    
      Idiomatik adalah penggunaan kedua kata yang berpasangan. Misalnya: sesuai dengan, disebabkan oleh, berharap akan, dan lain-lain. Pasangan idiomatik kedua kata seperti itu tidak dapat digantikan dengan pasangan lain.
Contoh : Bangsa Indonesia berharap akan tampilnya seorang presiden yang mampu mengatasi berbagai kesulitan bangsa. Kata berharap akan tidak dapat diganti oleh mengharapkan akan atau berharap dengan.


Sumber : Hs, Widjono, 2007. BAHASA INDONESIA Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo.

Rabu, 15 Oktober 2014

Ragam Bahasa

     Di dalam kenyataan di masyarakat terdapat bermacam-macam pemakaian bahasa. Kenyataan ini sering tidak disadari oleh kebanyakan orang. Akibatnya, timbul anggapan pemakaian bahasa Indonesia tidak memuaskan, terutama dikalangan pelajar dan mahasiswa, bahkan di kalangan guru dan cendekiawan. Sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia itu, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Pemakaian bahasa baku dan tak baku berkaitan dengan situasi resmi dan tak resmi. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan-pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya, dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku. Penggunaan bahasa yang dibedakan oleh faktor-faktor tertentu, seperti sutasau resmi dan tak resmi itulah yang akan dibicarakan di bawah ini supaya kita dapat membedakan pemakaian bahasa sesuai dengan tuntutan ragamnya. Dengan demikian, kita tidak akan merampatkan pemakaian bahasa bahwa penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar tidak ditafsirkan sebagai penggunaan bahasa baku dalam segala situasi.
     Ada tiga kriteria penting yang perlu diperhatikan jika kita berbicara tentang ragam bahasa. Ketiga kriteria itu ialah :
1. Media yang digunakan
2. Latar belakang penutur, dan
3. Pokok persoalan yang dibicarakan.
    Berdasarkan media yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa dapt dibedakan atas ragam bahsa lisan dan ragam bahasa tulis. Di bagian lain, kedua ragam itu dibicarakan secara tersendiri.
     Dilihat dari segi penuturnya, ragam bahasa dibedakan menjadi :
1. Ragam Daerah/Dialek
2. Ragam Bahasa Terpelajar
3. Ragam Bahasa Resmi
4. Ragam Bahasa Takresmi
     Berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan, ragam bahasa dapat dibedakan atas bidang-bidang ilmu dan teknologi serta seni, misalnya ragam bahasa ilmu, ragam bahasa hukum, ragam bahasa niaga, ragam bahasa jurnalistik, dan ragam bahasa sastra.


Ragam  Bahasa  Baku  dan  Ragam  Bahasa  Takbaku

     Penggunaan bahasa baku dan takbaku bertalian dengan situasi. Penggunaan bahasa baku berkaitan dengan situasi resmi atau kedinasan (formal), sedangkan penggunaan bahasa takbaku berkaitan dengan penggunaan bahasa dakan situasi tidak resmi atau di luar kedinasan. Di samping itu, jarak antara pembicara dan pendengar yang terlihat dari sikap, juga mewarnai penggunaan bahasa. Jarak yang dekat antara pembicara dengan pendengar akan melahirkan bahasa takbaku. Sebaliknya, jarak jauh atau sikap resami antara pembicara dengan pendengar akan melahirkan penggunaan bahasa baku. Namun, kita harus berhati-hati bahwa bahasa dalam situasi resmi tidak mesti baku karena topik pembicaraan juga menentukan pilihan penggunaan bahasa. Dalam pemilihan penggunaan bahasa yang baku itu selain situasi, perlu diperhatikan juga lawan bicara, latar (setting), topik, dan tujuan pembicaraan.
     Dalam hubungannya dengan ragam bahasa tulis baku, ragam bahasa itu merupakan hasil penataan secara cermat oleh penggunaannya (bukan eksresi spontan seperti ragam bahasa lisan) sehingga ragam bahasa tulis itu memenuhi kriteria yaitu jelas, tegas, tepat, dan lugas. Dengan demikian, kalimat itu benar.
    Dari segi ejaan, penulisan yang benar adalah analisis, hakikat, objek, jadwal, kualitas, dan hierarki. Dari segi makna, penggunaan bahasa yang benar berkaitan dengan ketepatan menggunakan kata yang sesuai dengan tuntutan makna, Misalnya, dalam bahasa ilmu tidak tepat jika digunakan kata yang bermakna konotatif (kiasan). Jadi, penggunaan bahasa yang benar adalah penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa.
    Kriteria penggunaan bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Pemilihan itu berkaitan dengan topik yang dibicarakan, tujuan pembicaraan, orang yang diajak berbicara (kalau lisan) atau pembaca (jika tulis), dan tempat pembicaraan. Selain itum bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang baik terlihat dari penggunaan kalimat-kalimat yang efektif, yaitu kalimat-kalimat yang dapat menyampaikan pesan/informasi secara tepat.


CONTOH  RAGAM  BAHASA

Berikut beberapa contoh ragam bahasa untuk melengkapi penjelasan tentang ragam bahasa diatas

A. Ragam  Bahasa  Lisan  Baku

Saudara Saudara,
Salah satu lambang kebangsaan kita adalah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus kita jaga biak-baik dan dengan rasa tanggung jawab yang sebesar-besarnya. Bahasa Indonesia adalah salah satu unsur Sumpah Pemuda yang mempersatukan kita sebagai bangsa. Kita bangga bahwa bahasa Indonesia itu telah tumbuh dan berkembang. Bahasa Indonesia bukan hanya menjadi bahasa pergaulan, bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi, malahan dapat menjadi bahasa ilmu pengetahuan, dapat menjadi bahasa teknologi. Namun, akhir-akhir ini ada tanda-tanda yang merisaukan kita dalam penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, saya mengulangi lagi ajakan yang saya sampaikan melalui Pidato Kenegaraan tanggal 16 Agustus 1972, 23 tahun yang lalu, marilah kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
     Penggunaan bahasa yang tertib menunjukkan cara berpikir dan bertindak yang tertib. Ketertiban itu merupakan dasar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang tertib. Ketertiban itu dasar bagi rasa tenteram dan sejahtera. Ketertiban adalah dasar bagi masyarakat yang modern dan maju. Berpikir tertib, bersikap tertib, dan bertingkah laku tertib itulah hakikat dari disiplin nasional.

Dikutip dari Sambutan Presiden
pada Peringatan Hari Kebangkitan
Nasional ke-87, 20 Mei 1995

B. Ragam  Bahasa  Lisan  Takbaku
     Nenek bikin setumpuk peraturan yang harus gua jalanin. Habis sekolah kagak boleh kemana-mana. Siang harus istirahat. Sore mandi, terus belajar. Jajan es atau gado-gado pun nggak boleh. Apalagi nonton pilem. "Jangan biasa jajan es" kata Nenek, "dirumah kan banyak jajan". Dan selalu dikatakan, "Kau harus menabung". Sebal rasanya, dengan petuah yang setiap hari mendengung di telinga ini. Anehnya, ayah dan ibu juga kakak sama saja, mereka selalu membela Nenek. Pokoknya gua kesal deh gara-gara Nenek datang di rumah.

C. Ragam  Bahasa Tulis  Baku
    Dalam suatu peneliatian lapangan tidak mungkin seorang peneliti dapat mengamati (observasi) seluruh jumlah subjek yang diteliti. Seorang peneliti yang harus mengamati kehidupan kaum gelandangan di kota tidak mungkin mempunyai waktu dan biaya yang cukup untuk mendatangi semua gelandangan yang ada di kota itu. Ia hanya dapat meneliti beberapa ratus orang di beberapa tempat saja. Bahkan, seorang peneliti yang harus meneliti suatu desa yang terdiri atas, misalnya, 3.000 penduduk, kalau ia hendak melaksanakan penelitiannya itu secara mendalam, tidak mungkin dapat mengamati, mewawancarai, dan mengetes ketiga ribu orang itu. Sudah baik kalau ia meneliti 300 orang di antaranya saja. Dengan demikian, sensus penduduk yang diadakan di Indonesia tahun 1972 dilakukan menyeluruh hanya mengenai tiga variasi saja, yaitu jumlah jiwa, umur, dan seks. Sedangkan untuk data penduduk yang lebih mendalam, seperti pekerjaan, pendapatan, tingkat pendidikan, agama, dan mobilitas, hanya diadakan dengan mengambil bagian-bagian kecil dari seluruh penduduk di beberapa tempat saja. Bagian-bagian dari keseluruhan (oleh para ahli statistik disebut populasi atau universe) yang menjadi objek sesungguhnya suatu penelitian itulah yang disebut sampel,...
Dikutip dari
Metode-metode Penelitian Masyarakat

D. Ragam  Bahasa  Tulis  Takbaku
    Konsumen potensial daripada nilai barang dan jasa tidak hanya dari aspek-aspek fungsional. Konsumenpun tertarik akan kwalitas artistik serta keindahan barang dan jasa. Banyak sekali barang dibeli karena modelnya, bentuknya, keindahan, maupun warnanya. Kenyataan ini tidak hanya penting untuk para pemegang mode, arsitek, seniman, maupun penata etalasi toko, melainkan juga untuk pejabat pemasaran. Peranan daripada tampang yang pada masa lampau hanya penting artinya bagi semua barang-barang konsumen kini semakin penting guna untuk barang-barang industriil. Karenanya konsumen perlu diperhatikan.

E. Ragam  Bahasa  Sastra
   Hanya berdua. Memang, menurut laporan PBB penghuni bumi sudah berjejalan. Tapi apa salahnya jika keduanya menganggap hanya ada mereka saja selama ini? Perempuan itu segalanya baginya. Dialah bulan untuknya saat begadan, dialah es kopyor di saat keluyuran di bawah terik matahari, dialah dedaunan hijau, mega putih di langit biru, oksigen, atau apa saja yang patut dipuja zaman ini.
     Sedang bagi perempuan itu, dia adalah rajawali, adalah gunung, adalah karang, adalah matahari, angin, musik rock, dan entah apa lagi. Pokoknya lelaki muda itu adalah tumpuan kasih sekaligus kekaguman yang tak pernah habis.
Dikutip dari Sunyi Nirmala

Sumber : Sugono, Dendy. 2009. Mahir Berbahasa Indonesia Dengan Benar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.